Palangka Raya – Fenomena video yang menampilkan perilaku remaja yang sering disebut dengan istilah “boti” belakangan ini ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Menanggapi hal tersebut, dosen Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Kristen (FISKK) IAKN Palangka Raya, Kukuh Pribadi, M.Psi., Psikolog, memberikan pandangan dari sudut ilmu psikologi.
Dalam wawancara dengan Palangka Post, Kukuh Pribadi menjelaskan bahwa fenomena tersebut perlu dilihat secara lebih luas, khususnya dari perspektif perkembangan psikologis remaja. Menurutnya, masa remaja merupakan fase penting dalam kehidupan seseorang yang ditandai dengan proses pencarian jati diri dan pembentukan identitas.
Pada fase ini, remaja cenderung mencoba berbagai bentuk ekspresi diri untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosialnya. Kehadiran media sosial kemudian menjadi ruang yang sangat terbuka bagi remaja untuk menampilkan dirinya kepada publik.
Namun demikian, Kukuh juga menekankan bahwa media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana bagi anak muda untuk berekspresi dan menunjukkan kreativitasnya. Akan tetapi di sisi lain, tekanan dari komentar negatif, ejekan, atau hujatan warganet dapat memberikan dampak psikologis yang cukup serius bagi remaja yang sedang membangun kepercayaan diri dan identitas dirinya.
Karena itu, ia menilai bahwa fenomena tersebut tidak seharusnya hanya dilihat sebagai bahan hiburan atau sekadar konten viral di dunia maya, melainkan juga perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika perkembangan psikologis remaja di era digital.
Setelah dikonfirmasi oleh Tim Humas IAKN Palangka Raya, Kukuh Pribadi kembali menegaskan pentingnya peran berbagai pihak dalam mendampingi generasi muda.
“Remaja saat ini hidup di tengah arus media sosial yang sangat kuat. Karena itu, mereka membutuhkan pendampingan yang tepat dari orang tua, sekolah, dan masyarakat agar proses pencarian jati diri dapat diarahkan ke hal-hal yang lebih positif. Alih-alih menghakimi atau mempermalukan, kita perlu memberikan edukasi, empati, dan ruang dialog yang sehat bagi mereka,” jelas Kukuh.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam merespons konten yang viral di media sosial. Menurutnya, di balik sebuah video yang menjadi bahan perbincangan publik, sering kali terdapat individu yang sedang mengalami proses perkembangan psikologis yang tidak mudah.
Dengan pendekatan yang lebih edukatif dan penuh empati, diharapkan generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, sehat secara psikologis, serta mampu memanfaatkan media sosial secara lebih bertanggung jawab.
