Palangka Raya – Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya kembali menggelar Ibadah Kampus pada Senin pagi (27/7) bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) IAKN Palangka Raya. Ibadah yang dimulai tepat pada pukul 08.00 WIB ini berlangsung khidmat dengan mengusung tema sentral “Kampus Tanpa Tembok: Tempat Kasih Bertumbuh, Kristus Dimuliakan”.
Ibadah kali ini menghadirkan Andreas Setiawan, M.Th., sebagai pembicara. Berpijak pada nas Alkitab dari Efesus 2:14-22, Andreas mengajak seluruh sivitas akademika untuk merefleksikan kembali makna sesungguhnya dari sebuah komunitas pendidikan Kristen.
Tantangan Tembok Tak Terlihat Dalam khotbahnya, Andreas menyoroti bahwa tantangan terbesar bagi kampus Kristen maupun teologi di masa kini bukanlah pada kurangnya pengetahuan akademis tentang kasih, melainkan pada keberadaan “tembok-tembok tak terlihat” yang perlahan terbangun di dalam relasi antarwarga kampus. Tembok ini menghalangi warga kampus untuk saling mengenal, saling menerima, dan saling mengasihi. Ia menegaskan bahwa kampus bukan sekadar tempat mempelajari Allah, melainkan tempat mengalami Allah melalui kehidupan bersama.
Identitas Kristus dan Kurikulum Kasih Merujuk pada surat Efesus, Andreas menjelaskan bahwa karya salib Kristus telah meruntuhkan tembok pemisah. Oleh karena itu, sebuah kampus tanpa tembok adalah tempat di mana identitas di dalam Kristus berhasil mengalahkan eksklusivitas atau identitas kelompok. Kasih harus diwujudkan dalam bentuk nyata melalui hidden curriculum (kurikulum tersembunyi), seperti bagaimana dosen memperlakukan mahasiswa, bagaimana mahasiswa baru disambut, dan bagaimana perbedaan disikapi dalam keseharian.
Sebagai penutup, Andreas melemparkan sebuah pertanyaan reflektif kepada jemaat: “Suatu hari nanti, mungkin Tuhan tidak akan bertanya berapa banyak lulusan yang dihasilkan kampusmu, tetapi Ia mungkin bertanya berapa banyak orang yang mengalami kasih-Ku secara pribadi ketika mereka berada di sana?” Ibadah kampus ini meninggalkan pesan mendalam bahwa kampus teologi tidak akan mengubah dunia hanya karena berhasil mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual. Perubahan nyata akan terjadi ketika kampus mampu menghasilkan murid-murid Kristus yang hidup tanpa tembok, mengasihi tanpa sekat, dan senantiasa memuliakan Kristus dalam setiap relasi kehidupan mereka.
